sayup sayup dari dalam diriku,Tuhan kembali menyeruku untuk kembali
dari perjalanan panjangku yang melelahkan
kugelar sajadah anyaman kesedihan di hadapanku
kutatap pilar-pilar masjid tempatku berpijak ini yang terbuat dari cahaya,
sebelum ku bertakbir
kuseksa setetes air wudhu yang menetes dari rambutku,
aku berwudu dengan air mata
sudah sangat jauh ku melangkah
dansetiap panggilan itu menerobos panggilan sukmaku
saat itu aku teringat bahwa saat saat indah sudah dekat
ia bisa datang hari ini,esok hari,tahun ini,ataupun mungkin seribu tahun lagi
tapi apa artinya jarak,ruang dan waktu
ketika aku berjalan menuju Tuhan
kudekap erat cinta dalam asaku,sambil kulafazkan Al-fatikhah
dalam penantian panjangku ini
aku rukuk dan bersujud di hadapan tuhan,
apalah bedanya kehidupan dengan kematian
saat semua cintaku telah menemukan kesejatian dan tempat berlabuh
kututup tanda baktiku dengan salam,
kuangkat lengan ku tinggi-tinggi
untuk bermunajat
aku tidak meminta apapun untuk tuhan selain cintaNYA dan cinta
orang orang yang mencintaiNYA
saat seruan itu terdengar lagi,
entah apakah aku masih dapat menyongsongnya?
atau justru akulah yang menyerukan dari sisi-nya
di akhir pencarianku
di puncak keabadian
(Iip wijayanto)